Thursday, 4 July 2013

MESIR : ADA SINAR DI HUJUNG TEROWONG

Bangkitlah wahai Mesir, seperti ketika kekeringan dan kelaparan dahsyat mencengkam di zaman Khalifah Umar, engkaulah lumbung bumi nan dermawan

Bangkitlah wahai Mesir, seperti datang darimu wanita agung yang kami hayati iman teguhnya dalam tegukan zam-zam dan sa’ie dari Safa ke Marwa

Bangkitlah wahai Mesir, yang dari rahim salah seorang perempuanmu, lahir Ibrahim Ibn Muhammad, air mata Rasulullah berderai untuknya

Bangkitlah wahai Mesir, sebab bahkan budak-budak yang kau rajakan, Quthuz memapas penjajahan Monggol, Baybars mencerai-berai tentera salib

Bangkitlah wahai Mesir, seperti ‘Amr ibn Al ‘Ash kalahkan Arthabun, As Syafi’ie pindah padamu dan Salahuddin Al Ayubbi memulai peran darimu

Bangkitlah wahai Mesir, seperti kau jadi saksi Fathul Bari ditulis ibn Hajar, Al ‘Itqan ditulis As Suyuthi dan Al Azhar menjadi mercu ilmu

Bangkitlah wahai Mesir, seperti Allah titipkan padamu Al Banna dan jamaah Ikhwan yang diuji dalam besi dan api,  beku dan bakar, kurung dan bunuh

Dengan Sepenuh Cinta
Salim A Fillah

Bila melihat ujian yang Allah timpakan kepada pejuang Islam di Mesir, Ikhwanul Muslimin khususnya, aku terjadi malu dengan diri sendiri. Ratusan ahli ditangkap, pejabat-pejabat dibakar, ada sebahagian antara mereka dibunuh, difitnah media-media pro barat, tiada keadilan, tiada pembelaan. Aku meyakini, ujian-ujian ini menjadi bukti akan kesungguhan dan keikhlasan mereka bekerja demi agama Allah. Sekurang-kurangnya mereka punyai jawapan dihadapan Allah kelak.

Mesir mengajar kita pelbagai erti. Betapa tidak mudah untuk membawa kembali agama ini di saat Islam sudah kembali dagang. Betapa tidak mudah untuk meninggikan agama ini ketika diasak bertali arus, bertubi-tubi, dari pelbagai arah oleh tentera thaghut dan jahiliah. Betapa jalan dakwah dan tarbiah ini masih panjang, tidak pernah dijanjikan mudah dan senang, tidak pernah terjamin.

Mesir memberi kita seribu satu pelajaran. Betapa ujian Allah akan sentiasa menanti di atas jalan cinta para pejuang. Mehnah yang diberi sesuai dengan tahap keseriusan kita dalam arena dakwah ini. Malulah kita sebab masih lagi diuji dengan kekasih zaman silam. Malulah kita andai ujian meninggalkan keseronokan itu yang paling berat dirasa. Malulah kita sebab tidak mampu lagi berangkat baik di waktu senang mahupun susah. Malulah kita andai masih tidak kuat untuk tajarrud dalam memikul amanah ini.

Betapa aku cemburu padamu. Kau merelakan dirimu menjadi perisai untuk menghalang trak tentera. Kau merelakan nyawamu melayang saat dirimu nekad turun di jalanan bagi mempertahankan Islam. Kau merelakan anak-anakmu menjadi yatim, isteri-isterimu menjadi janda, suami-suamimu menjadi duda, untuk mempertahankan kebenaran yang kau yakini dan percaya. Tarbiah apakah yang kau terima? Sedang kami di sini masih lagi sayang sayang untuk menginfakkan harta, masih lagi mengeluh pada subuh kami yang kian hari kian gajah, masih lagi sedih mengenangkan amal-amal kami yang makin hari makin pudar.

Wahai ansarullah, ketahuilah hari ini hanya gerhana. Kelak suria pasti menjelma. Pertolongan Allah pasti akan datang. Kemenangan Islam pasti menjelang. Sungguh, aku yakin kemenangan adalah hak Allah, yang akan diberi pada saat kita sudah benar-benar bersedia untuk meraikan kemenangan itu. Dan aku pasti lagi percaya, Fi Zilalil Quran dan Ma'alim Fit Toriq sedang membina generasinya. Biar masa yang menentukan. 

Walaupun kalian tidak mengenaliku, aku tidak mengenali kalian, tetapi yakinlah hati-hati kita bertaut kerana-Nya, kerana kita hidup dengan ruh dan nadi yang sama. Ruh dakwah dan tarbiah. Semangat kalian menjadi aspirasi buat kami di sini. Ruh-ruh kalian menjalar dalam hati kami.

Kami di sini masih lagi menantikan kokokan ayam. Ah, terlalu lama rasanya untuk fajar menjelang. Apatah lagi suria mengembang.   

Dr  Morsi, kami bersamamu

Tuesday, 2 July 2013

DAN AKU MASIH GAGAL


Dulu aku bertanya, mengapa namamu yang berulangkali disebut-Nya
Dan kisahmu yang bertebar merambah hampir setiap surah
Bahkan Allah menetapkan, kau terkisah untuk menguatkan jiwa
Hati dan rasa seorang Nabi penutup masa

Ya, kini aku tahu..betapa tak mudah menjadimu hai Musa
Mengemban risalah dalam keadaan yang serba tak sempurna
Kau tak fasih bicara, sulit berkata-kata
Dan sebab khilaf masa lalu, kau tersalah membunuh

Maka saat wahyu turun, air matamu menitik, tubuhmu berpeluh,
Dalam kesedaran akan beratnya beban, kau mengeluh
“Bicaraku gagap, lidahku kelu, aku takut mereka akan mendustakanku..
dan pada mereka aku berdosa sungguh, aku takut akan dibunuh

Ya, kini aku tahu, sungguh tak mudah menjadimu,
Sebab dalam keterbatasan itu, Allah berikan untukmu lawan penuh kuasa
Perbendaharaannya kaya, kerajaannya luas, tenteranya perkasa
Punggawanya setia, lagi taat buta
Mengaku tuhan tertinggi, dia merasa berkuasa atas hidup dan mati
Dan kau..kau terhutang budi masa kecil padanya

Dan tahukah kau duhai Musa, kelak kaum yang kau pimpin
Yang kau bimbing bebas dari perbudakan tiran
Yang menyaksikan sejuta kuasa Allah menaungi mereka
Akan berlomba membangkangi Allah dan mendurhakaimu?

Malam ini ku susuri kisahmu, dan aku takjub
Atas takdir-Nya, masa lalumu tak sempurna
Kau terpilih memikul risalah suci, dan kau didustakan
Sedang Muhammad dipilih-Nya dari pribadi yang terjaga sempurna
Dia memikul risalah dengan gelar Al Amin yang masyhur sudah
Tapi diapun tetap didustakan

Mungkin sebab itulah kisahmu selalu menjadi penguat hatinya
Di saat-saat berat, Muhammad mengenangmu dan melirihkan gumam
“Semoga Allah menyayangi saudaraku Musa,
sungguh ia dicobai lebih menyakitkan dari ini”

Malam ini duhai Musa, ku susuri kisahmu
Aku tersenyum, Alhamdulillah, kau membuatku merasa
Beban-beban da’wah ini hanyalah seberkas kapas
Tapi disisi lain, menelisik ceritamu, mataku basah

“Ahh, surga, rasanya masih jauh, sangat jauh..”

Salim A Fillah
Namamu, Sang Rasul

*Dan aku masih gagal, untuk kuat memikul risalah ini, masih belajar untuk mencintai Allah dan Rasul melebihi segalanya

DALAM DEKAPAN UKHUWAH

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
Sejuta kebaikan yang lalu

Wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
Menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
Dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,
Sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji

Dalam Dekapan Ukhuwwah
Salim A Fillah


Puisi nukilan indah, akh mahbub Salim A Fillah ini terlalu menyentuh hati saya. Entah kenapa. Mungkin kerana sekarang saya berada di fasa perpindahan. Menanti masa untuk terjun ke medan yang baru. Terlalu merindukan kenangan lalu. Saya tahu tidak wujud istilah perpisahan di jalan Allah. Kerna pada akhirnya, kita akan bertemu di syurga.

Namun..
Semua ke syurga kecuali dia. Ku bimbang dialah diriku.

IZINKAN AKU PERGI


Saat ku baca pesan-pesanmu,
Aku tersenyum kegirangan,
Kerana aku tahu namaku masih meniti dibibirmu,
Dan aku juga mahu kau tahu,
Namamu juga sering dihatiku

Aku baca sabda persaudaraan,
Bukankah tidak sempurna iman seorang mukmin itu,
Andai tidak mencintai saudaranya,
Seperti mana ia mencintai dirinya sendiri

Akhi, aku merindukan saat ketika dulu,
Lenggok jalan kita pernah seirama,
Nyanyian lagu merdu kita pernah senada,
Pipi kita pernah saling berlaga, 
Belum sempat tangan berjabat, jatuh kita dalam pelukan                            

Tapi akhi
Aku bukan aku yang kau kenal dahulu,
Aku tidak selincah dahulu,
Bahkan ada satu ketika,
Aku menerima tetamu di lorong gelap dahulu,
Yang tika dulu kau pimpin tanganku pergi meninggalkannya,
Maafkan aku akhi sayang,
Telah ku cemari ukhuwwah ini,
Dengan setitis nila di atas jalan cinta para pejuang

Bahkan aku malu untuk manatap matamu,
Apatah lagi mendengar lunak suaramu,

Lalu akhi,

Relakan aku pergi sebentar,
Mencari diri yang hilang,
Aku juga mahu seperti dirimu,
Terbang tinggi mengutip cinta di langit,
Lalu pulang menebar rindu di bumi.

Akhi,

Andai tidak ketemu lagi,
Kirimkan rindumu di angin lalu,
Moga sampai di telingaku hikmat cintamu,
Moga sunyi malam hadirkan aku di mimpimu,
Moga indah pagi membawa aku dalam ingatanmu,

Akhi

Ku doa kita dapat ketemu,

Tidak di sini moga di sana

-Si Cacat-

Monday, 1 July 2013

DARI MELBOURNE KE MESIR, ADA CINTA ANTARA KEDUANYA VI

Irfan memandu kereta Inspira R3 miliknya. Sesekali kereta itu meluncur laju memotong kereta-kereta dihadapan. Ummi dan ayahnya beserta dengan kedua-dua mertuanya turut serta dalam perjalanan itu namun mereka memandu kereta yang berbeza. Sengaja ingin memberi peluang kepada Irfan untuk berdua-duaan bersama isteri yang baru dinikahinya itu sebelum Irfan berlepas pulang ke Australia pada malam itu juga.
                                 
Suasana dalam kereta Inspira R3 itu sungguh ceria. Perjalanan malam itu dihiasi dengan gelak dan tawa mereka berdua. Sesekali Aisyah menghulurkan cubitan manja ke pinggang suaminya jika dirasakan gurauan Irfan terlalu nakal.

“Yang..agak-agak kan, kita nak berapa orang anak?”

“Erm..nak seratus bulih? hiks”

“Eeeii..main-main pulak dia ni, ingat orang ni ibu kucheng ke?”

Serentak dengan itu, satu cubitan singgah di paha kiri Irfan.

“Auww..sakitlah..ish, awak ni, suka sangat mencubit, habislah anak kita nanti, hehe”

“Anak-anak okay”

“Ops..hee”

“Huhu..”

Ceria. Bahagia. Gembira. Tidak tergambar perasaan mereka ketika itu. Dan kereta Inspira R3 terus meluncur melangkah masuk ke perkarangan masuk Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur diikuti dengan Honda CR-V dan Proton Perdana berwarna hitam.

Mereka sekeluarga berkumpul di ruang legar KLIA untuk menikmati momen-momen bahagia  sebelum Irfan masuk ke balai pelepasan. Aisyah yang merupakan pelajar perubatan di Mesir akan pulang sedikit lewat iaitu dua minggu setelah kepulangan Irfan.

“Menantu ummi tak sedih ke suami nak pergi ni,” Dr Murshidah menggenggam tangan Aisyah. Senyuman nipis terpancar dari raut wajahnya.

“Ish ummi ni, my wife is a masculine woman okay, betul tak sayang?,” Irfan mengenyitkan mata ke arah isterinya. Sedikit manja.

Perbualan terus berjalan dengan rancak sehingga tibanya saat untuk Irfan bergerak ke balai pelepasan. Setelah berpeluk-pelukan dan bersalam-salaman bersama-sama ahli keluarga tersayang, Irfan menarik tangan isterinya ke satu sudut yang agak jauh dari kedudukan ahli keluarga yang lain.

“B..betul ni tak sedih?” Bahu Aisyah dipegang. Anak mata mereka bertemu.

“Kenapa nak sedih yang..kan awak pergi menuntut ilmu,” Aisyah tersenyum. Wajah suaminya ditatap penuh kasih dan sayang.

“That’s my baby,” Irfan mencuit hidung isterinya.

Pipi Aisyah kemerah-merahan. Malu. Terasa seperti semua mata memandang ke arah mereka ketika itu.

“B..this is for you..”

Irfan menghulurkan sebuah buku setebal satu inchi bertajuk “Buat Zaujati” karya Encik Musab kepada Aisyah. Aisyah menerimanya dengan senang hati. Dia menatap muka depan buku itu yang indah  berlatarbelakangkan gambar bahagian belakang seorang muslimah bertudung labuh berwarna merah yang sedang memandang ke arah laut.

“Janji ye habiskan buku ni before B balik ke Mesir,” Irfan berpesan sebelum melangkah pergi untuk ke balai pelepasan.

………………………………………………………………………………………………………………………………

Imran tekun menghadap ke arah computer sambil menaip sesuatu. Dia bertekad untuk menghabiskan assignmentnya petang itu juga. Kali ini dia tidak mahu menangguhkannya sehingga ke hujung minggu. Syaukat terlebih dahulu telah mengajaknya untuk pergi ke sebuah program yang akan diadakan di Canberra pada hujung minggu itu. Kata Syaukat program itu berkenaan dengan sejarah, ISK nama glamornya. Sebenarnya ketika mula-mula tiba di Australia, Irfan selalu mengajaknya untuk pergi ke program atau seminar yang dianjurkan pada setiap minggu, namun dia sering menolaknya dengan alasan mahu menumpukan sepenuh perhatian pada pelajaran. Namun tatkala melihat result peperiksaan Irfan yang sering cemerlang pada setiap semester walaupun sibuk menyertai pelbagai program, hatinya terdetik untuk terlibat sekali.

“Im..aku dah siap masak, jom makan,” Muaz menjengah ke dalam bilik Imran.

“Az, kau makan dulu eh, aku nak siapkan benda ni, ada sikit lagi,” balas Imran sambil memandang ke arah Muaz.

“Okeh, tapi kalau dah habis makanan tu aku kerjakan, jangan menyesal, hehe”

Jawapan Muaz itu diiringi hilai tawa. Imran turut tertawa. Geli hati melihat telatah sahabatnya yang sememangnya lucu itu.

Malam itu Imran dan Irfan bersiar-siar di Flagstaff Garden yang terletak berdekatan dengan pusat Bandar di Kota Melbourne. Hanya mereka berdua. Menikmati suasana tenang dan udara segar yang terdapat di situ sememangnya mampu memberi kelegaan kepada sesiapa sahaja yang bertandang ke situ.

“Fan, mesti best kan dah jadi suami orang?,” Imran memulakan bicara. Ketika itu mereka sudahpun duduk di atas sebuah kerusi panjang yang disediakan di situ.

“Haha..pelik je cara kau tanya ni Im, kenapa? Teringin nak jadi suami orang ke?,” Irfan membalas. Penuh bersahaja.

“Aku tak layak jadi suami sesiapa pun Fan”

Sedikit terkesima Irfan tatkala mendengar jawapan Imran. Kedengaran agak serius. Namun Irfan menghalau sejauh-jauhnya fikiran-fikiran negatif yang singgah di kepalanya. Suasana sunyi seketika. Masing-masing tenggelam dalam dunia sendiri.

“Eh, kau pergi kan program ISK minggu ni?,” Irfan cuba mengubah mood.

“InsyaAllah pergi, lagipun aku dah siapkan assignment petang tadi, sebenarnya tu program apa Fan?,” Imran bertanya. Ingin tahu.

“Ada lah..tak surprise lah bagitahu awal-awal. Tapi yang pasti, best!,” Irfan menjawab. Penuh yakin.

“Eleh, Syaukat cakap pasal sejarah, sejarah apa? Sejarah Malaysia?,”

Kata-kata Imran membuatkan Irfan sedikit tergelak.

“Apa lah kau ni Im, kalau sejarah Malaysia, tak payah buat program kot, sejarah agama kita,” balas Irfan. Ringkas.

Jawapan Irfan membuatkan suasana kembali sunyi. Imran menghantar pandangan jauh ke hadapan. Menerobos pepohon hijau yang terdapat di Flagstaff Garden itu. Seakan-akan ada sesuatu yang difkirkannya.

“Hmm, entah Tuhan ampunkan dosa aku ke tak,” Imran kembali bersuara.

Irfan yang ketika itu sedang menatap sesuatu di skrin Samsung Galaxy Note 3 miliknya sedikit tersentak mendengar kata-kata Imran itu. Namun dia cuba berlagak tenang.

“Im..Allah itu Maha Pengampun, Dia akan ampunkan semua dosa kita, asalkan kita ikhlas bertaubat pada Dia,” Irfan membalas lembut. Tangan kanannya diletakkan diatas paha kiri Imran.

“Tapi Fan…”

“Tapi apa Im? Tak baik Im kita meragui rahmat dan kasih sayang Allah,” Irfan memintas kata-kata Imran.

“Tapi aku pernah rogol orang Fan!”

Imran bersuara sedikir emosi. Dan Irfan terus terkesima.


 -[Part VI] – Bersambung

Friday, 28 June 2013

DARI MELBOURNE KE MESIR, ADA CINTA ANTARA KEDUANYA V

“Awak Hani Arina binti Abu Bakar?”, wanita separuh abad di hadapannya itu bertanya dengan nada lembut.

Hani telah diberitahu oleh kerani di Kedutaan Malaysia bahawa dia akan dibawa berjumpa dengan individu yang bertanggungjawab menguruskan kebajikan pelajar-pelajar Malaysia di Mesir, Ustazah Sharifah.

“Iya saya,” Hani membalas ringkas tetapi penuh bersemangat. Segaris senyuman terpancar dari wajah ayu anak gadis kampung itu.

Hani memerhatikan Ustazah Sharifah menulis sesuatu di atas sekeping kertas. Mungkin prosedur biasa bagi pelajar yang baru mendaftar seperti dia. Begitulah fikir Hani. Wanita itu masih lagi kelihatan anggun walaupun sudah berusia. Dan sekali sekala, terserlah sifat keibuannya melalui gaya interaksinya bersama pegawai-pegawai di Kedutaan Malaysia itu. Lantas Hani terkenangkan ibu tuanya di kampung.

“Hani, mak baru balik dari pejabat pos ni haa, permohonan kau nak sambung belajar ke Mesir diterima nak, Alhamdulillah!”

Mak Tam bergegas memanjat tangga rumahnya sambil melaungkan nama Hani. Sementara itu Hani hanya mendiamkan diri di dalam bilik. Bukannya dia tidak mendengar panggilan ibunya itu, namun sengaja dia memilih untuk mendiamkan diri. Semenjak peristiwa dia dirogol ketika berseorangan dirumah, Hani telah berubah menjadi seorang yang pendiam dan jarang keluar dari rumah. Semangatnya untuk menyambung pelajaran pun kian pudar. Dan peristiwa itu tidak diceritakan kepada sesiapa pun termasuk ibunya sendiri.

Ketika Mak Tam menjengah ke dalam bilik Hani, dilihatnya Hani sedang melipat baju-baju yang bertimbunan di atas katil.

“Kau ni kenapa Hani? Kau tak sihat ke nak?”

Mak Tam bertanya. Penuh kasih sayang. Bimbang juga dia melihat anak daranya itu seperti sudah kurang bercakap. Namun Mak Tam tidak mahu bersangka bukan-bukan. Dia menganggap Hani kesedihan setelah kematian ayahnya dan pemergian Imran ke Australia. Dahulu sebelum kematian Pak Abu, Mak Tam dan suaminya itu pernah merancang untuk mengahwinkan Hani dengan Imran walaupun ketika itu usia Hani dan Imran masih muda. Namun setelah kematian Pak Abu, rancangan itu hanya tinggal rancangan. Begitupun, Mak Tam masih menyimpan harapan agar suatu hari nanti impiannya ingin melihat Hani dan Imran bersatu tercapai.

“Tak de apa-apa la mak,” Hani menjawab bersahaja. Dia meneruskan kerja melipat pakaian tanpa menoleh ke arah ibunya.

“Hani…”

Mak Tam menghampiri Hani lalu duduk di atas katil bersebelahan dengan Hani. Hani memandang ibunya sekilas. Perlahan-lahan dia tersenyum.

“Mak nak sangat satu hari nanti Hani jadi isteri Imran, sebelum mak menutup mata,” Mak Tam berterus terang. Berharap Hani senang menerimanya.

Air muka Hani berubah. Dia menatap wajah Mak Tam sedalam-dalamnya. Air mata bergenang di kelopak matanya. Tidak sanggup rasanya untuk bersuamikan seorang perogol. Lelaki yang tergamak merogol anak perempuan kepada sepasang suami isteri yang telah banyak membantu hidupnya selama ini. Namun kata-kata Mak Tam yang syahdu seakan-akan tidak terlawan oleh Hani. Dia kepasrahan. Dan tanpa disedarinya air matanya mengalir membasahi pipi.

“Hani Arina…”

Panggilan Ustazah Sharifah itu mematikan lamunan Hani. Dia bingkas tersenyum. Berpura-pura tiada apa yang difikirkannya.

“Ustazah, boleh saya tahu saya akan tinggal di mana?”

Hani memberanikan diri bertanya kepada Ustaz Sharifah semasa mereka telahpun keluar dari bangunan Kedutaan Malaysia.

“Oh ya, terlupa pula ustazah nak beritahu, in sha Allah, Hani akan tinggal di Beit Syurahbil bersama 3 orang akhawat yang lain,” Ustazah Sharifah membalas sambil tersenyum.

“Akhawat?” Hani seakan-akan asing dengan istilah itu.

“Akhawat ni maknanya saudara perempuan. Ish, pelajar jurusan dinniyah macam Hani kena biasakan dengan istilah-istilah arab,” Ustazah Sharifah menerangkan panjang lebar.

“Sekarang ustazah nak bawak Hani berjumpa dengan kawan-kawan serumah Hani, mereka dah berjanji nak tunggu di Masjid Al-Azhar,” sambung Ustazah Sharifah lagi.

Hani hanya mengangguk. Dia sudah dapat merasakan keterujaan untuk memulakan hidup di bumi anbiya’ ini.

…………………………………………………………………………………………………………………............

Irfan memerhatikan keadaan sekeliling jalan raya di kota Melbourne itu. Dia mencari-cari bas awam untuk pulang ke rumahnya. Sebenarnya dengan status tinggi yang disandang oleh kedua ibu bapanya, Irfan mampu untuk memiliki sebuah kereta untuk digunakan di Melbourne. Namun sengaja Irfan memilih untuk hidup seperti seorang pelajar biasa di situ. Tambahan pula, rakan-rakannya di Melbourne terdiri daripada orang-orang kebanyakan. Maka, berperawakan seperti pelajar biasa adalah yang paling terbaik untuk memudahkan pergaulan dengan mereka. Begitulah yang difikirkan oleh Irfan.

Setelah menunggu lebih 10 minit di perhentian bas yang disediakan, Irfan mengambil keputusan untuk pulang menaiki teksi yang sememangnya banyak beroperasi disekitar kota Melbourne itu. Dalam perjalanan, pemuda tampan itu memanfaatkan masa yang ada untuk memperbaiki ayat hafazannya. Sesekali dia mencuri-curi tengok Al Quran zip yang sentiasa di bawanya ke mana-mana sahaja dia pergi semenjak berada di sekolah menengah.

Setibanya di rumah, Irfan tidak terus menuju ke bilik tidurnya, sebaliknya dia memasuki bilik Syaukat yang terletak di hadapan biliknya.

“Syaukat, boleh tak kalau aku nak pinjam computer kau?”

“Boleh je, gunalah, lagipun aku nak keluar ni, ada usrah kat Theme Park,” Syaukat membalas sambil menyikat rambut berikalnya itu.

“Alright, thanks Syaukat,” Irfan terus menuju ke meja computer milik Syaukat. Menghidupkan suis-suis yang diperlukan untuk membolehkan computer itu beroperasi.

Sepeninggalan Syaukat, Irfan membuka emailnya. Sudah menjadi kewajipan untuk Irfan untuk memeriksa emailnya seminggu dua kali kalau-kalau ada makluman terbaru yang disampaikan daripada persatuan-persatuan yang disertainya.

Namun kali ini cukup berbeza. Ibunya sendiri telah menelefonnya dari Malaysia memintanya untuk memeriksa email. Perlahan-lahan dia mengklik pada tab yang bertulis “ummi”. Irfan memerhatikan sekali lalu email yang dihantar ibunya itu. Terdapat gambar seorang muslimah bersama dengan seorang wanita berusia yang disertakan sekali.  

Assalamualaikum Irfan, ummi harap Irfan terus menerus berada dalam lembayung rahmatnya dan istiqamah dalam dunia tarbiah. Tujuan ummi menghantar email ini kepada Irfan sebenarnya untuk meminta Irfan pulang ke Malaysia bagi membincangkan sesuatu yang serius. Actually, we have discussed about this matter with our family member. Kami bersetuju untuk mempercepatkan perkahwinan Irfan dengan Aisyah yang sepatutnya diadakan pada tahun depan. Ummi faham mungkin Irfan akan sedikit terkejut dengan keputusan ini, tapi ummi nak Irfan tahu yang keputusan ini, in sha Allah yang terbaik untuk Dakwah dan Tarbiah, baik bagi diri Irfan mahupun Aisyah. Ummi tak mahu Irfan terburu-buru menyatakan pandangan Irfan. Ummi mohon Irfan pulang dahulu ke Malaysia, dan setelah itu barulah kita boleh berbincang secara panjang lebar. May Allah bless you.

Lots of love
Dr. Murshidah
Your Ummi

Irfan memerhatikan kalendar yang terletak di atas meja computer itu. Mencari-cari tarikh yang sesuai untuk pulang ke tanah air. Hatinya gundah gelana.

“Mengapa secara tiba-tiba..? Allah….”    


-[Part V]- Bersambung

Tuesday, 25 June 2013

DWELL UPON THE PAST

Giving up something the heart adores is one of the hardest battles we ever have to fight.

Saya mempunyai satu hobi yang boleh dikategorikan sebagai tidak senonoh. Saya gemar menyelongkar laman muka buku sahabat-sahabat yang boleh dikatakan sudah mencapai tahap super saiya dalam arena dakwah dan tarbiah. Semangat saya berkobar-kobar melihat gelombang perubahan dalam diri mereka. Daripada menulis status-status yang lagha dan kerepek, mereka mula menghapdate status-status yang tarbawi gitu. Nak menangis pun ada. Saya yakin dan pasti, bukan mudah untuk bermujahadah meninggalkan lorong gelap jahiliah yang hanyir dan berkulat itu. Ianya tidak semudah merebus maggi tomyam.

Semua manusia atas muka bumi ini punya kisah silam yang tersendiri. Hatta, Umar Al-Khatab, manusia yang namanya harum semerbak kasturi juga punya cerita lampau. Bagaimana sebelum di tarbiah, Umar Al-Khatab adalah seorang yang hina dan kehidupannya terdampar di lorong gelap jahiliah, namun setelah di sapa makcik Hidayah, lihatlah sejarah ulung Umar Al-Khatab. Malah, beliau adalah salah seorang sahabat yang dijanjikan syurga. Walaweh!

Ok dah nak masuk part sedih.

Saya cukup-cukup memahami betapa getirnya ujian masa silam ini. Kerana saya turut pernah mengalaminya. Malah saya tidak malu mengatakan saya masih lagi diuji dengan ujian masa silam. Ia terlalu menyakitkan. Ia diibaratkan seperti anda sedang bergelut dalam pusaran air yang menarik anda ke dasar laut. Anda berusaha untuk keluar dari tarikan itu. Sesekali anda berjaya dan berpeluang merasai lazatnya udara di atas permukaan air namun anda terus ditarik, ditarik dan ditarik. Akhirnya anda kepenatan dan tertewas. Maka mencairlah tarbiah yang pernah diterima. Runtuhlah iman yang sekian lama dibina. Hanya kerana masa silam.

Jika dahulunya dia pernah bergelumang dengan lautan hanyir percintaan jahiliah. Berhubungan antara teruna dan dara sesuka hati. Namun dengan kasih dan sayang-Nya, Allah mempertemukannya dengan kelazatan tarbiah. Perlahan-lahan dia keluar dari bilik kotor dan berdebu itu menuju ke satu dunia yang baru. Dunia di mana dia mula mengenali apa itu ukhuwwah fillah. Namun jahiliah pantang mengalah. Sesekali dia terseret juga ke bilik itu semula. Bagi yang pernah mengalaminya, kalian pasti mengerti sesungguhnya ia tidak mudah.

Begitu juga dengan para kipas susah mati bola ataupun gamer tegar. Jika anda sebahagian daripada mereka sewaktu bersama-sama  berseronokan di dunia gelap, anda pasti tahu bagaimana bergayanya turning mereka setelah mengenali tarbiah. Gamer tegar misalnya, sudah pasti menghadapi krisis yang sangat-sangat dahsyat pada permulaan fasa tarbiahnya. Masakan tidak, waktu-waktu yang dahulunya sering terisi dengan bergayanya dengan bermain game kini perlu diisi dengan sesuatu yang tarbawi. Membaca Al-Quran. Membaca buku-buku fikrah. Ia tidak mudah. Saya cukup percaya.

Tarikan-tarikan untuk kembali semula ke masa silam yang kelam itu akan sentiasa ada. Bahkan ia tidak pernah tiada. Dan tiada siapa pernah memberi jaminan bahawa jalan mujahadah ini mudah. Sebab itu, dalam Al Quran, Allah secara terus-terang menyatakan kebersamaan-Nya bersama orang-orang yang berjihad ini. Tanda cinta Allah pada hamba-hamba yang bermujahadah mencari redha-Nya. Allahu Allah. Terharu. Menangis.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah berserta orang-orang yang berbuat baik.
(29 : 69)

Ikhwah dan akhawat sekalian,

Ketahuilah Allah tidak pernah mempersiakan mujahadah kalian semua. Setiap titis air mata dan setiap keluhan kata, Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar. Terus-meneruslah berdoa agar suatu hari nanti Allah membebaskan kalian dari belenggu masa silam yang benar-benar menghambat diri. Jangan lupa titipkan doa buat saya sekali.

Sesungguhnya jalan menuju ke syurga itu tidak pernah dihiasi dengan mawar-mawar merah dan pewangi-pewangi harum, tetapi di jalan itu terbentangnya karpet mujahadah, yang menuntut peluh dan air mata. Percayalah, syahadah yang benar tidak pernah mempersiakan setiap titisan peluh dan linangan air mata di jalan Allah.

Titisan air mata menyubur cinta
Dan rindu pun berbunga
Mekar tidak pernah layu
Damainya hati yang dulu resah keliru
Cintaku tak kan pudar diuji dugaan
Menghantar harapan moga kan kesampaian kepada Tuhan
Lantaran diri hamba kerdil dan hina

Duhai ikhwah dan akhawat,

“Dan kerana Tuhanmu, bersabarlah..”