![]() |
Saat ku baca
pesan-pesanmu,
Aku tersenyum
kegirangan,
Kerana aku tahu namaku
masih meniti dibibirmu,
Dan aku juga
mahu kau tahu,
Namamu juga
sering dihatiku
Aku baca sabda
persaudaraan,
Bukankah tidak
sempurna iman seorang mukmin itu,
Andai tidak
mencintai saudaranya,
Seperti mana ia
mencintai dirinya sendiri
Akhi, aku
merindukan saat ketika dulu,
Lenggok jalan
kita pernah seirama,
Nyanyian lagu
merdu kita pernah senada,
Pipi kita pernah
saling berlaga,
Belum sempat tangan berjabat, jatuh kita dalam pelukan
Belum sempat tangan berjabat, jatuh kita dalam pelukan
Tapi akhi
Aku bukan aku yang kau kenal dahulu,
Aku bukan aku yang kau kenal dahulu,
Aku tidak
selincah dahulu,
Bahkan ada satu
ketika,
Aku menerima
tetamu di lorong gelap dahulu,
Yang tika dulu
kau pimpin tanganku pergi meninggalkannya,
Maafkan aku akhi
sayang,
Telah ku cemari
ukhuwwah ini,
Dengan setitis
nila di atas jalan cinta para pejuang
Bahkan aku malu
untuk manatap matamu,
Apatah lagi
mendengar lunak suaramu,
Lalu akhi,
Relakan aku
pergi sebentar,
Mencari diri
yang hilang,
Aku juga mahu
seperti dirimu,
Terbang tinggi
mengutip cinta di langit,
Lalu pulang
menebar rindu di bumi.
Akhi,
Andai tidak
ketemu lagi,
Kirimkan rindumu
di angin lalu,
Moga sampai di
telingaku hikmat cintamu,
Moga sunyi malam
hadirkan aku di mimpimu,
Moga indah pagi
membawa aku dalam ingatanmu,
Akhi
Ku doa kita
dapat ketemu,
Tidak di sini
moga di sana
-Si Cacat-

No comments:
Post a Comment